BI Rilis Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah 

0
99
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono. (Ist)

JAKARTA – Sebagai bentuk pertanggung jawaban sekaligus memberikan informasi terkait perkembangan perekonomian Indonesia disaat pandemi Covid-19. Secara periodik Bank Indonesia (BI) menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah. Indikator yang dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan untuk periode perkembangan Nilai Tukar  7-11 Juni 2021.

Dimana pada akhir Kamis (10/6/2021) lalu, nilai tukar Rupiah ditutup pada level (bid) Rp 14.245 per dolar. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,35%. DXY (Indeks dolar) melemah terbatas ke level 90,08. Sedangkan Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun juga turun ke level 1,432%.

“Sementara pada Jumat (11/6/2021) pagi kemarin, Rupiah dibuka pada level (bid) 200 per dolar AS. Sedangkan Yield SBN 10 tahun turun ke level 6,32%,” kata Erwin, Sabtu (12/6/2021).

Sedangkan untuk Aliran Modal Asing, lanjut Erwin, di Minggu ke II Juni 2021, Premi CDS Indonesia 5 tahun turun ke level 73,52 bps per 10 Juni 2021 dari 75,21 bps per 4 Juni 2021.

“Berdasarkan data transaksi 7-10 Juni 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp10,54 triliun terdiri dari beli neto di pasar SBN Rp10,49 triliun, dan beli neto di pasar saham Rp 0,05. Dan berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden beli neto Rp 14,65 triliun,” ujar Erwin.

BI sebagai penetap dan pelaksana kebijakan moneter, memastikan Inflasi masih berada pada level yang rendah dan terkendali.

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada Minggu II Juni 2021, perkembangan harga masih relatif terkendali dan diperkirakan deflasi 0,09% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Juni 2021 secara tahun kalender sebesar 0,81 % (ytd), dan secara tahunan 1,40% (yoy).

Dijelaskan Erwin, penyumbang utama deflasi Juni 2021 sampai Minggu II, yaitu komoditas daging ayam ras dan cabai merah masing-masing -0,09% (mtm), tarif angkutan antarkota -0,06% (mtm), cabai rawit -0,04% (mtm), bawang merah -0,02% (mtm), kelapa, tomat dan daging sapi masing-masing -0,01 % (mtm).

“Sementara itu, beberapa komoditas mengalami inflasi, antara lain telur ayam ras 0,04% (mtm) emas perhiasan 0,03 % (mtm) minyak goreng, sawi hijau, kacang panjang, nasi dengan lauk dan rokok kretek filter masing-masing 0,01% (mtm),” jelasnya.

Menyikapi hal ini, bersama otoritas terkait, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

“Serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Dan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” pungkas Erwin.(hari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here