Pertumbuhan Harga Properti Australia Lampaui Prediksi Awal 

0
42
Direktur Penjualan Crown Group, Prisca Edwards menjelaskan. (Ist) 

 

 

JAKARTA – Crown Group, perusahaan pengembang properti di Australia,memberikan informasi  perihal perkembangan pasar properti di Australia.

Seperti disampaikan, menurut KPMG Economics (sebuah jaringan jasa professional multinasional, dan salah satu dari 4 organisasi akuntansi terbesar di dunia), harga properti Australia telah meningkat jauh di atas apa yang seharusnya terjadi jika Covid-19 tidak pernah terjadi.

Sebagian besar kota di Australia mengalami kenaikan pada 2020, menurut laporan dari KPMG Economics, tetapi suku bunga yang sangat rendah dan dukungan pemerintah untuk pasar properti selama pandemi memberi pasar nafas tambahan, menambahkan ratusan ribu dolar ekstra untuk nilai properti.

Sementara menurut laporan The Impact of COVID on Australia’s Residential Property Market selama 18 bulan terakhir dibanding skenario tanpa Covid-19. Secara nasional, harga rumah sekarang antara 4% – 12% lebih tinggi dari prediksi awal dan harga unit apartemen naik hingga 13% lebih tinggi daripada jika dunia tetap “normal”.

Dalam skenario 2020 yang normal, respons kebijakan pandemi, seperti mendorong suku bunga turun menjadi 0,1% dan memperkenalkan program HomeBuilder, tidak akan terjadi.

Di bawah pemodelan KPMG, tanpa pandemi, harga rumah di Sydney diperkirakan akan naik 13% hingga mencapai $1.119.000 pada Desember 2023, namun saat ini mereka akan naik 26% menjadi $1.244.000.

Awalnya harga rumah tapak di Brisbane akan naik 9% menjadi $601.000, alih-alih, mereka akan naik 20% menjadi $661.000.

Harga hunian di Melbourne diprediksi akan meningkat 19% menjadi $905.000, namun yang terjadi adalah mereka akan naik 24% menjadi $940.000. Bahkan Darwin (satu-satunya kota di mana harga rumah dimodelkan akan turun), malah akan mengalami kenaikan harga $31.000.

Dr. Brendan Rynne, kepala ekonom KPMG Australia mengatakan, penurunan suku bunga hipotek, penghematan ekstra dari tidak menghabiskan liburan; dan dukungan pendapatan yang besar dari pemerintah dan dukungan pasar perumahan secara khusus, telah melihat harga properti naik secara dramatis dalam 6 – 9 bulan terakhir, melewati titik di mana mereka akan meningkat di bawah skenario tanpa Covid.

Disisi lain, Direktur Penjualan Crown Group, Prisca Edwards menjelaskan, harga hunian terus menggelembung di Sydney, sebagai akibat langsung dari pandemi Covid-19.

“Kami melihat penelitian yang menunjukkan terdapat kesenjangan harga 66% antara pasar rumah tapak dan apartemen. Di Crown Group, kami telah melihat minat baru dalam pembelian apartemen terutama dari konsumen lokal yang menghuni yang ingin meningkatkan kualitas kehidupan mereka ke depan jika Lock Down COVID terus berlanjut, yang tercermin dalam penjualan baru-baru ini,” ujarnya, Rabu (21/7/2021).

Sepanjang Lock Down Sydney terbaru, lanjutnya, pihaknya telah melihat permintaan yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Dan melihat tren yang berkelanjutan, maka tidak akan terkejut bila melihat harga segera naik.

Sementara Direktur Penjualan dan Pemasaran Crown Group Indonesia, Tyas Sudaryomo mengungkapkan, seperti halnya pisau, pandemi Covid-19 ini memiliki 2 sisi yang saling bertentangan.

“Kita tidak menutup mata bahwa kerusakan yang dihasilkan oleh pandemi ini sangatlah luar biasa terutama jika dilihat dari varian baru yang lebih menular, Namun di sisi lain, pandemi yang telah berjalan 1,5 tahun ini menciptakan kebiasaan baru terutama dalam hal keuangan, baik itu dari sisi pemerintah maupun swasta dan rumah tangga,” ujarnya.

Tyas menambahkan, kombinasi dari stimulan dan kebijakan bunga rendah pemerintah, ditambah pengeluaran rumah tangga yang jauh lebih selektif, jumlah populasi yang rendah karena penurunan angka imigrasi turut mempengaruhi kondisi pasar properti, khususnya di Australia.

“Ditambah kebutuhan masyarakat domestik saat ini akan tempat tinggal yang memiliki konsep biofilik akan terus memberi bahan “aditif” kepada pasar. Dan ini membuat pertumbuhan harga rumah tapak secara alami juga akan ikut mengerek harga unit apartemen. Belum lagi dari kalangan investor yang melihat saat ini adalah waktu terbaik untuk melakukan investasi,” terang Tyas.

Meskipun Australia sedang menghadapi gelombang kedua Covid-19 seperti halnya di Indonesia, namun alumnus University of Sydney ini optimis, pasar properti Austalia akan lebih siap.

“Mengingat pengalaman dan keberhasilan Australia dalam menangani gelombang pertama Covid-19, saya optimis pasar properti di Australia kali ini akan lebih “tahan banting.” ujar Tyas. (haria Kamandanu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here