Dinas PU Pengairan dan ‘Sungai Watch’ Bersinergi Jadikan Sungai Banyuwangi Bersih dan Sehat

0
67
Guntur Priambodo bersama tim 'Sungai Watch' saat survey di Sungai Kali Lo

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi melalui Dinas PU Pengairan akan bersinergi dan berkolaborasi dengan organisasi ‘Sungai Watch’ untuk menjadikan sungai di Banyuwangi yang bersih dan sehat.

‘Sungai Watch’ adalah sebuah organisasi yang dibentuk oleh aktifis lingkungan Gary Bencheghib.

Bersama saudaranya Sam Bencheghib, Gary Bencheghib adalah kakak-adik asal Perancis yang sempat viral karena aksinya membersihkan sampah Sungai Citarum, Jawa Barat, pada 2017 lalu.

Kedatangannya di Banyuwangi setelah bertemu Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mereka langsung melakukan survei bersama Plt. Kepala Dinas PU Pengairan Kabupaten Banyuwangi, Guntur Priambodo di Sungai Kali lo (Lohkanti), Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Banyuwangi, Kamis (26/08/2021).

Kali Lo merupakan sebuah sungai yang membelah pusat kota Banyuwangi dan bermuara di Marina Boom (destinasi wisata andalan Banyuwangi).

Duo bersaudara itu juga sedang giat membersihkan sungai di Pulau Bali. Berawal dari membersihkan sampah plastik di pantai-pantai Bali, mereka lantas juga membersihkan sampah sungai. Mereka lalu mengajak anak-anak muda Bali untuk turut menjadi relawan penjaga sungai.

“Sampah di laut berasal dari sampah-sampah di sungai. Karena itu kami berinisiatif membersihkan sungai bersama anak-anak muda Bali. Banyak anak muda Bali yang bergabung bersama kami. Kini kami ingin melalukan hal serupa di Banyuwangi,” kata Gary.

Berbagai cara telah dilakukan Sungai Watch untuk membersihkan sampah di sungai. Telah berbagai proses mereka pelajari. Hingga akhirnya, mereka menemukan teknik penghalang sampah dengan menggunakan tabung penghalang. Pada akhir 2020, mereka telah berhasil memasang 100 penghalang sampah di Bali. Mereka targetkan ada 1000 titik lagi.

Setiap jaring penghalang berpotensi menjaring sampah dari berbagai jenis. Tiap hari mereka bisa mengumpulkan sampah 200 kilogram. Bahkan ketika hujan bisa mencapai 1 ton sampah. Tidak hanya memasang penghalang sampah, mereka juga mendata dan menganalisis sampah-sampah utamanya sampah platik yang berasal dari sungai. Bahkan mereka juga mendata asal sampah plastik dari ratusan ribu brand perusahaan.

Sampah-sampah yang mereka dapatkan itu lalu mereka daur ulang menjadi berbagai produk. Mulai dari batako, paving, dan lainnya. Bahkan adik Gary, Sam, membuat sepatu daur ulang dari plastik. Sepatu itu telah dia coba dipakai lari di New York dan Los Angles.

“Sepatu daur ulang juga kuat. Kami berencana lari di Danau Toba menggunakan sepatu daur ulang ini,” kata Sam.

Sementara, Guntur Priambodo mengungkapkan, Banyuwangi akan menjadi kota pertama di Jawa yang bekerja sama dengan organisasi ini dalam menangani permasalahan sampah di wilayah sungai.

“Hari ini saya berdiskusi dengan tim ‘Sungai Watch’ yaitu sebuah organisasi yang sangat concern untuk kebersihan dan keindahan sungai sungai di dunia,” ucap Guntur Priambodo.

“Kita banyak sharing masalah pengelolaan sampah di sungai,” imbuhnya.

Misi kolaborasi ini, kata Guntur, yaitu menghentikan sampah mengalir kelaut, melalui pemasangan penghalang sampah (Trash Barrier).

Tidak hanya melakukan pembersihan, ‘Sungai Watch’ juga konsisten terhadap pendataan sampah yang terkumpul untuk mengetahui lebih detail jenis sampah apa saja yang paling banyak menjadi polutan di sungai, serta akan melakukan daur ulang terhadap sampah untuk dijadikan produk olahan yang bermanfaat.(nng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here