Sosok Aiptu Ririn Nurfiah, Polwan Militan Peduli Sesama

0
78
Aiptu Ririn Nurfiah saat berbagi bersama anak anak TPQ.

BANYUWANGI – Kepeduliannya membantu sesama tampaknya sudah melekat dihati Aiptu Ririn Nurfiah, seorang anggota Polsek Banyuwangi, Polresta Banyuwangi.

Sekilas, sosok polisi wanita lulusan Bintara angkatan XX tahun 1996 – 1997 ini, tidak ada yang istimewa.

Rutinitas hariannya sebagai anggota Polwan terlihat biasa saja. Pagi sampai sore dia melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

Dengan mengenakan seragam coklat lengkap dilengkapi atribut dinas dan jilbab untuk penutup kepala, polwan yang berdomisili di jalan Ikan Wijinongko, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi ini selalu siap melayani masyakarat.

Aiptu Ririn Nurfiah saat mengajari anak anak membaca Al-qur’an

“Setiap sore sepulang kerja, saya memberikan pelajaran membaca kepada ibu-ibu yang buta huruf. Saya berikan motivasi kepada kaum ibu yang belum bisa membaca dan terlihat mereka sangat antusias mengikuti pelajaran,” ucap Aiptu Ririn saat ditemui di rumahnya, Senin (01/11/2021) sore.

Selain memberikan pelajaran membaca yang muridnya terdiri dari ibu-ibu, Aiptu Ririn merupakan pencetus mushalla dan Taman Pendidikan Alqur’an (TPQ) Al-Ilham di Lingkungan Wonosari Pesisir, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi.

Rutinitas sosial keagamaan itu, dijalaninya bersama Aiptu Darmawan sang suami yang juga anggota polisi (provost).

Kepedulian Aiptu Ririn Nurfiah terhadap masyarakat sekitar bukan hanya ‘anget-anget tai ayam’. Selain perhatian kepada warga sekitar rumahnya, dia juga menunjukan perhatian dan kepedulian kepada masyarakat pinggiran, yaitu mengantarkan anak dari keluarga kurang mampu melakukan pendaftaran agar bisa bersekolah.

“Tahun ini saya bersama suami, membantu Veri Wicaksono telah lulus dari SD Tamanbaru Banyuwangi, dia sejak kecil, tinggal bersama neneknya di Jalan Ikan Lele Kelurahan Tukangkayu Banyuwangi, karena ibunya telah meninggal dan bapaknya kurang mampu untuk mengurusnya. Maka kami bantu komunikasikan dengan pihak kepala sekolah,” terang Aiptu Ririn.

Lebih lanjut dia menjelaskan, nenek Vari tidak mampu memberikan biayai pendidikan bagi kelanjutan sekolah Veri, demikian juga dengan ayahnya, karena itu Veri terpaksa tidak mendaftar ke SMP.

Sehingga, masa pendaftaran dan penerimaaan peserta didik baru sekolah telah berakhir. Melihat keadaan ini, Aiptu Ririn merasa terpanggil dan berkoordinasi dengan beberapa pihak, hingga akhirnya Veri bisa diterima di SMPN 5 Banyuwangi.

“Alhamdulillah setelah berkoordinasi dan melalui proses yang sedikit melelahkan, akhirnya Veri dinyatakan diterima di SMPN 5 Banyuwangi dan sudah melakukan registrasi penerimaan siswa baru. Veri diterima langsung oleh Kepala Sekolah SMPN 5 Banyuwangi waktu itu masih Lilik Subekti,” papar dia.

Selain itu, Aiptu Ririn menyampaikan, saat ini Veri sudah memiliki KIP (Kartu Indonesia Pintar), sehingga biaya pendidikannya ditanggung oleh pemerintah dan sekolah melalui program BOS dan SAS.

“Biaya pendidikan Veri nantinya akan ditanggung pemerintah melalui program BOS dan SAS. Untuk biaya seragam dan menjahit yang mencapai Rp. 1.300.000,- (satu juta tiga ratus ribu rupiah), diperoleh dengan cara iuran banyak pihak, termasuk kepala sekolah, guru, dan beberapa rekan anggota Polri,” pungkas dia.

Dari bentuk kepedulian Aiptu Ririn dan suaminya tersebut, stigma negatif yang diarahkan kepada aparat kepolisian saat ini dirasa kurang tepat. Karena kenyataannya, didalam tubuh korp berbaju coklat ini, telah melakukan revolusi mental para anggotanya.

Hingga kini, revolusi mental yang dilakukan oleh Polri terus dilaksanakan, hasilnya bisa dilihat dari banyaknya personil polisi yang baik dan bersahaja dalam menjalankan tugas maupun kehidupan bermasyarakat, namun sangat jarang terekspos oleh media.

Di Polresta Banyuwangi, sebelumnya juga ada Aiptu Sutomo, yang gencar membantu warga miskin membangun rumah layak huni.(nng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here